Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2014

Ke Pasar

Lucu sekali hari ini....ahay, rasa kangen ku belum terobati juga. Pergi ke pasar, itulah yang aku kangeni. Sering sekali Ibu menyuruh kami berbelanja dipasar, kalau nggak mbakku yang nomer satu pasti aku atau adikku yang ke pasar. Ibu sudah memberi list apa saja nanti yang akan kami beli, tak lupa Ibu berpesan jajan boleh asal yang mengenyangkan heheh. Jika hari Minggu pasti lebih heboh lagi karena aku teman-teman berebut ingin ke pasar. Alhasil kami saling bergandengan menuju pasar. Menurut kami saat itu ke pasar sudah menjadi hal yang sangat menyenangkan. Kami bisa belanja sendiri dan jajan sesuka hati, meski jajanan kami sangat sederhana yaitu gethuk, ketan puli, pita dan jepitan rambut murah meriah menjadi hiburan buat kami. Jarak pasar dan rumah sangat dekat, kami cukup berjalan kaki ramai-ramai sambil bercerita. Kalau nggak ada teman biasanya aku naik sepeda, kadang sendiri kadang juga boncengan sama adik atau mbakku. Bukan itu saja, rasanya dipasar dapat belajar apa saj...

Iwik Pulang dengan Sendirinya

Selepas lulus SD kira-kira tahun 2000 Iwik hanya menganggur saja dirumah, sesekali dia membantu emaknya dipasar. Namanya juga dipasar, ada banyak orang dan tentu ada banyak pembicaraan heheh, pembicaraan antara orang tua, antara penjual dan pembeli, dan antara pedagang.  Usut punya usut emaknya Iwik pun terbujuk juga dengan rayuan teman sesama pedagang. Merantaulah Iwik ke Jakarta.  Keterbatasan ilmu yang kita dapat ternyata akan berdampak besar terhadap masa depan kita. Iwik terjerumus kedalam sebuah pergaulan yang dia sendiri juga tidak tahu dunia apa yang dia masuki. Iwik sama sekali tidak tahu besarnya kota Jakarta itu tidaklah selalu menjanjikan. Emaknya pun hanya tahu disana Iwik kerja ikut orang. Itu saja yang emaknya tahu.  Iwik pun hamil diusia yang sangat muda, mengenaskan bukan? tidak, itu adalah pengalaman bagi saya. Entah bagi Iwik. Iwik hanya tahu dia disayangi, diperhatikan, dan dia memperoleh kasih sayang yang tidak dia temukan dari sosok Ayah...

Ditengah-tengah kami, Iwik hanya mampu di gerbang SD

Iwik salah satu teman masa kecilku meski usianya dua tahuan dibawahku. Lebih tepatnya dia seusia adikku, aku, adikku, mbakku, iwik, lek iken, lek upik, dan dua bersaudara mbak kom dan mbak fitri, kami semua tinggal satu deret. Masa kecil kami sungguh menyenangkan, kami bermain betengan , delikan/petak umpet, bekelan, dan terkadang kami bermain keluarga-keluargaan. Jarang sekali kami bertengkar karena jaman dulu belum ada hp atau mainan yang sanggup membuat kami rebutan atau saling menjatuhkan karena satu diantara kami yang tidak punya.  Diantara kami hanya Iwik yang cuma menamatkan sekolahnya di SD. Bukan karena tidak mampu, namun orang tuanya  tidak melek pendidikan. Ibunya hanya seorang penjual teh hangat di pasar, Bapaknya petani dan penggembala sapi. Sungguh, dibandingkan aku dan saudaraku sebenarnya Iwik lebih beruntung secara finansial. Bapaknya adalah seorang jawa yang begitu kolot dengan seabreg aturan. Pernah tetanggaku yang guru SD mendatanginya, membujuk agar Iwi...