Postingan

Charity bersama Yayasan Rumah Lentera

Gambar
Mewakili IIDN Solo Raya kami menghadiri Charity yang diadakan oleh Yayasan Rumah Lentera. Bertempat di The Alana hotel & convention center, Solo acara berlangsung meriah. Selain talk show ringan seputar kesehatan kulit dan perawatannya untuk kaum perempuan diadakan pula sejumlah peragaan busana dimana hasil lelang nantinya akan disumbangkan.  Inti acaranya pengenalan HIV AIDS pada masyarakat, dijelaskan oleh dr. Dyah Cinde Sp.Kk dari rs. Indriati bahwa HIV berbeda dengan Aids. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sel CD 4 atau yang lebih dikenal sebagai sel T. sel T adalah bagian dari sel darah putih dimana fungsinya sebagai pertahanan tubuh.   Sedangkan Aids adalah Acquired Immune Deficiency Syndrom, itu adalah tahap akhir dari   HIV. Gejala infeksi HIV   antara demam, sakit tenggorokan hingga tubuh merasa lelah, bahkan akan mengalami diare terue menerus, muntah, mual, hingga timbul bercak merah, penurunan berat badan yang sangat ...

Mengejar Ilmu blogger Pemula

Gambar
Tak ada yang istimewa, hari ini seperti biasa bangun agak kesiangan. Eits, jangan salah tentu setelah menunaikan kewajiban sebagai umat yang beriman. Shalat subuh lalu kembali masuk dalam selimut, melanjutkan mimpi-mimpi yang mungkin dengan terpaksa terpotong beberapa menit. Ingin rasanya kembali berselimut manja. Namun tiba-tiba teringat percakapan wa dengan Mak Aya, panitia KEB Solobeberapa hari yang lalu, disaat detik terakhir penutupan peserta saya dengan pe-de AKA percaya dirinya meminta satu seat saja. Bukan meminta, hanya menanyakan dengan harapan masih ada satu kursi buat saya mengikuti pelajaran kali ini. Mengenal blog sudah lebih dari 5 tahun, dari hp jadul hingga akhirnya mempunyai sebuah notebook sendiri, dan berakhir pada menguap begitu saja. Bukan hanya pemahaman tentang blog lho…notebook pun ikut menguap entah kemana hahhaha. Lupakan si ungu yang dulu saya gadang-gadang mampu dan mau menemani perjalanan bermedia sosial hingga maut memisahkan ternyat...

nekat nulis

Gambar
Curhatan konyol pekerja tembok besi yang butuh waktu untuk menyegarkan pikiran. Dimana terkadang sepulang kerja lebih asyik meluruskan punggung, sejenak menselonjorkan kaki hingga menikmati cemilan sebelum melakukan aktivitas beragam aktivitas, membaca serta membersihkan rumah saja kalau tidak pintar membagi waktu akan sulit dibuatnya. Dengan waktu kurang dari 8 jam sehari untuk istirahat dibutuhkan setidaknya 2 jam saja. Menghindari membuka media social salah satu cara agar bisa menyelesaikan setidaknya dua sampai tiga paragraf. Setelah melewati banyak drama mau tak mau hasilnya pasti kelihatan. Drama? Iya, disaat ingin menyelesaikan suatu pekerjaan ada pastilah godaannya. Selain mengantuk tentu saja.

Cinta, berbagi, dan memiliki

Berkali-kali aku melihat sinetron dengan latar seorang pembantu dengan majikan, pembantu dengan sopirnya, pembantu dengan apalah yang pasti kebanyakan happy ending. Selalu begitu, berakhirnya sebuah drama yang membuat penontonnya membayangkan andai itu aku. Iwik,,,meretas cinta pertamanya dengan seorang tukang ojek, ironis.  Bahkan kisah Iwik menjadi sebuah kisah yang mengenaskan, untukku. Iwik memang kurang dari segi pendidikan, dia pun sangat jarang bersosialisasi. Iwik begitu pendiam, dia punya dunianya sendiri, dan Iwik pun mungkin bingung disaat dia masuk kesebuah dunia luar yang begitu luas. Dia masuk tanpa pengawalan, baik moril mau pun spiritualnya. Iwik melenggang bebas merasakan sentuhan-sentuhan dunia luar dengan tanpa beban, dan Iwik tak pernah menyaring mana yang tepat, dan tidak tepat. Iwik berjalan diatas bara yang tidak dia sadari. Iwik mereguk manisnya cinta dengan sepenuh hatinya, apa yang ada dipikirannya mungkin berbeda dengan apa yang orang-orang pikirkan...

Ke Pasar

Lucu sekali hari ini....ahay, rasa kangen ku belum terobati juga. Pergi ke pasar, itulah yang aku kangeni. Sering sekali Ibu menyuruh kami berbelanja dipasar, kalau nggak mbakku yang nomer satu pasti aku atau adikku yang ke pasar. Ibu sudah memberi list apa saja nanti yang akan kami beli, tak lupa Ibu berpesan jajan boleh asal yang mengenyangkan heheh. Jika hari Minggu pasti lebih heboh lagi karena aku teman-teman berebut ingin ke pasar. Alhasil kami saling bergandengan menuju pasar. Menurut kami saat itu ke pasar sudah menjadi hal yang sangat menyenangkan. Kami bisa belanja sendiri dan jajan sesuka hati, meski jajanan kami sangat sederhana yaitu gethuk, ketan puli, pita dan jepitan rambut murah meriah menjadi hiburan buat kami. Jarak pasar dan rumah sangat dekat, kami cukup berjalan kaki ramai-ramai sambil bercerita. Kalau nggak ada teman biasanya aku naik sepeda, kadang sendiri kadang juga boncengan sama adik atau mbakku. Bukan itu saja, rasanya dipasar dapat belajar apa saj...

Iwik Pulang dengan Sendirinya

Selepas lulus SD kira-kira tahun 2000 Iwik hanya menganggur saja dirumah, sesekali dia membantu emaknya dipasar. Namanya juga dipasar, ada banyak orang dan tentu ada banyak pembicaraan heheh, pembicaraan antara orang tua, antara penjual dan pembeli, dan antara pedagang.  Usut punya usut emaknya Iwik pun terbujuk juga dengan rayuan teman sesama pedagang. Merantaulah Iwik ke Jakarta.  Keterbatasan ilmu yang kita dapat ternyata akan berdampak besar terhadap masa depan kita. Iwik terjerumus kedalam sebuah pergaulan yang dia sendiri juga tidak tahu dunia apa yang dia masuki. Iwik sama sekali tidak tahu besarnya kota Jakarta itu tidaklah selalu menjanjikan. Emaknya pun hanya tahu disana Iwik kerja ikut orang. Itu saja yang emaknya tahu.  Iwik pun hamil diusia yang sangat muda, mengenaskan bukan? tidak, itu adalah pengalaman bagi saya. Entah bagi Iwik. Iwik hanya tahu dia disayangi, diperhatikan, dan dia memperoleh kasih sayang yang tidak dia temukan dari sosok Ayah...

Ditengah-tengah kami, Iwik hanya mampu di gerbang SD

Iwik salah satu teman masa kecilku meski usianya dua tahuan dibawahku. Lebih tepatnya dia seusia adikku, aku, adikku, mbakku, iwik, lek iken, lek upik, dan dua bersaudara mbak kom dan mbak fitri, kami semua tinggal satu deret. Masa kecil kami sungguh menyenangkan, kami bermain betengan , delikan/petak umpet, bekelan, dan terkadang kami bermain keluarga-keluargaan. Jarang sekali kami bertengkar karena jaman dulu belum ada hp atau mainan yang sanggup membuat kami rebutan atau saling menjatuhkan karena satu diantara kami yang tidak punya.  Diantara kami hanya Iwik yang cuma menamatkan sekolahnya di SD. Bukan karena tidak mampu, namun orang tuanya  tidak melek pendidikan. Ibunya hanya seorang penjual teh hangat di pasar, Bapaknya petani dan penggembala sapi. Sungguh, dibandingkan aku dan saudaraku sebenarnya Iwik lebih beruntung secara finansial. Bapaknya adalah seorang jawa yang begitu kolot dengan seabreg aturan. Pernah tetanggaku yang guru SD mendatanginya, membujuk agar Iwi...