Ditengah-tengah kami, Iwik hanya mampu di gerbang SD

Iwik salah satu teman masa kecilku meski usianya dua tahuan dibawahku. Lebih tepatnya dia seusia adikku, aku, adikku, mbakku, iwik, lek iken, lek upik, dan dua bersaudara mbak kom dan mbak fitri, kami semua tinggal satu deret. Masa kecil kami sungguh menyenangkan, kami bermain betengan, delikan/petak umpet, bekelan, dan terkadang kami bermain keluarga-keluargaan. Jarang sekali kami bertengkar karena jaman dulu belum ada hp atau mainan yang sanggup membuat kami rebutan atau saling menjatuhkan karena satu diantara kami yang tidak punya. 
Diantara kami hanya Iwik yang cuma menamatkan sekolahnya di SD. Bukan karena tidak mampu, namun orang tuanya  tidak melek pendidikan. Ibunya hanya seorang penjual teh hangat di pasar, Bapaknya petani dan penggembala sapi. Sungguh, dibandingkan aku dan saudaraku sebenarnya Iwik lebih beruntung secara finansial. Bapaknya adalah seorang jawa yang begitu kolot dengan seabreg aturan. Pernah tetanggaku yang guru SD mendatanginya, membujuk agar Iwik bisa melanjutkan sekolah jawabannya adalah, "Buat apa sekolah kalau sekolah nggak akan dapat beras."
Langsung saja tetanggaku itu tidak tinggal diam, dia berjanji untuk memberi bapaknya Iwik beras agar Iwik bisa sekolah, sayang sekali Iwik tetap tidak bisa melanjutkan sekolahnya. 
Disaat kami berlomba menimba ilmu Iwik hanya memandang kami dari jauh. Apa yang akan Iwik lakukan dengan ijasah SD-nya, kami hanya bisa tetap menjadi temannya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

nekat nulis

Charity bersama Yayasan Rumah Lentera