Sepenggal Kisah Iwik

9 Mei 2014
Hari ini seperti biasa aku bekerja dan bekerja. Tak ada yang berbeda bahkan sama disetiap detiknya. Berbunyilah alat komunikasi yang selalu kupakai disetiap harinya, tidak terlalu canggih tapi juga tidak terlalu jadul. Lemas, begitu aku mendengar kabar dari seberang.
"Iwik meninggal dunia tadi malam setelah melahirkan." deggg...terngiang ditelingaku ucapan Budhe tempo hari yang menyuruh aku beserta keluargaku untuk mengunjungi Iwik saat dia melahirkan nanti. Entah itu sebuah pertanda atau firasat atau hanya sekedar keinginan orang tua agar kami selalu menjaga persaudaraan? Sekali lagi entah...itu maksudnya apa. Pesan Budhe tempo hari dan kabar pagi ini sungguh pukulan tanpa rasa untukku.
Bagaimana dengan bayinya nanti? Bagaimana dengan anak pertamanya  yang masih belum mengeluarkan tetesan darah remajanya namun telah ditinggal pergi bundanya. Dua anak dari dua bapak dan dua tanggung jawab yang sangatlah berbeda.








7 Juni 2014
Malam ini kamarku entah mengapa begitu dingin, mungkin efek dari sawah yang ada dibelakang rumah. Hembusan anginnya benar-benar membuat kewalahan namun tak ingin juga mencari kain tebal pengusirnya. 
Iwik adalah nama panggilannya, sedang mak dan bapaknya memberi nama Lasmini. Bungsu dari  empat bersaudara (itu yang aku tahu) ini sangatlah pendiam. Perawakannya gempal, dengan postur yang tidak begitu semampai. Dia anak yang baik sehingga sangat sulit mencari jeleknya dimana. Orang tuanya pun benar-benar perwatakan orang jaman dahulu, yang teramat sopan, sederhana, tidak sombong, rendah hati, dan suka menolong. Ah...sayang sekali, karena bapaknya begitu kolot meski berkecukupan (lebih cukup dariku) Iwik hanya mampu mengenyam pendidikan sampai SD,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

nekat nulis

Charity bersama Yayasan Rumah Lentera

Ditengah-tengah kami, Iwik hanya mampu di gerbang SD